Layanan edukasi masyarakat (LENTERA) mandalika, dari rumah sakit menuju gerakan sosial pencegahan "STANTING"

Terkini 17 Jul 2026 20:11 3 min read 36 views By MUH. ZAINI
Layanan edukasi masyarakat (LENTERA) mandalika, dari rumah sakit menuju gerakan sosial pencegahan "STANTING"
  ‎ LOMBOK TENGAH_WARTA NUSANTARA/18 JULI 2026.‎Stunting tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan medis yang diselesaik...

 

LOMBOK TENGAH_WARTA NUSANTARA/18 JULI 2026.‎Stunting tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan medis yang diselesaikan melalui pengobatan di fasilitas kesehatan. Stunting merupakan persoalan multidimensi yang berkaitan erat dengan perilaku, pendidikan, pola asuh, sanitasi, hingga kualitas informasi kesehatan yang diterima masyarakat. Karena itu, pendekatan kuratif saja tidak cukup. Dibutuhkan transformasi pelayanan kesehatan yang mampu menyentuh akar persoalan melalui edukasi, pemberdayaan, dan perubahan perilaku masyarakat.

‎Dalam konteks tersebut, inovasi LENTERA Mandalika (Layanan Edukasi Kesehatan Masyarakat Terarah) menghadirkan paradigma baru bahwa rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, tetapi juga sebagai pusat promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan konsep *Health Promoting Hospital* yang menempatkan rumah sakit sebagai institusi yang aktif membangun kesadaran kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

‎Keunggulan utama LENTERA Mandalika terletak pada kemampuannya mengintegrasikan edukasi kesehatan, pemanfaatan teknologi digital, dan kolaborasi lintas sektor ke dalam satu sistem pelayanan yang saling terhubung. Pemanfaatan media sosial, website, video edukasi, podcast, WA Group, hingga leaflet berbasis QR Code menunjukkan bahwa promosi kesehatan harus mengikuti perubahan perilaku masyarakat yang kini hidup di era digital. Di tengah maraknya hoaks dan misinformasi kesehatan, penyediaan informasi yang valid dan mudah diakses menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi.

‎Program ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan hasil kerja bersama antara rumah sakit, puskesmas, pemerintah desa, akademisi, sekolah, organisasi masyarakat, dan keluarga. Pendekatan kolaboratif tersebut memperkuat Program Desa Berdaya yang dikembangkan Pemerintah Provinsi NTB sehingga intervensi kesehatan tidak berhenti di ruang pelayanan rumah sakit, tetapi berlanjut hingga tingkat keluarga dan masyarakat.

‎Secara empiris, efektivitas LENTERA Mandalika juga terlihat dari hasil evaluasi program. Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 55,3 pada pre-test menjadi 89,7 pada post-test, sementara tingkat kepuasan peserta mencapai 96,6 persen. Data ini menunjukkan bahwa edukasi yang dirancang sesuai kebutuhan masyarakat mampu menghasilkan peningkatan literasi kesehatan sekaligus mendorong perubahan perilaku yang lebih sehat.

‎Menurut Maslahatul Wardani, LENTERA Mandalika merupakan contoh nyata inovasi pelayanan publik yang adaptif terhadap tantangan zaman. Ketika banyak program kesehatan masih berorientasi pada penyelesaian masalah setelah terjadi, LENTERA memilih bergerak pada pencegahan sebelum masalah muncul. Pendekatan seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia apabila ingin mewujudkan Generasi Emas 2045 yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing.

‎Apabila implementasi program ini dilakukan secara konsisten serta didukung oleh kebijakan dan pendanaan yang memadai, LENTERA Mandalika berpotensi menjadi model promosi kesehatan yang dapat direplikasi oleh rumah sakit dan puskesmas di berbagai daerah di Indonesia. Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan kesehatan bukan diukur dari banyaknya pasien yang diobati, tetapi dari semakin sedikitnya masyarakat yang jatuh sakit karena telah memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menjaga kesehatannya sendiri.

‎Oleh : muh. Zaini

Chat with us on WhatsApp